Model dan Strategi Toleransi Beragama di Daerah Muslim Minoritas: (Belajar Moderat dengan Muslim Minoritas Karang Asem Bali)

Penulis
Dr. Suparta, M.Ag dan Wahyudi, M.Pd.
Editor
-
Tahun Terbit
2024
Isbn
978-623-484-161-9
Edisi
1
Halaman
140 Halaman
Ukuran
14,5 x 20,5 cm
Bahan
HVS 80 Gram
Harga
45.000
Synopsis
Argumen utama yang menjadi fondasi penulisan buku ini adalah penerimaan ulama yang cukup tinggi terhadap negara dan bangsa serta berbagai dimensi survival untuk menjamin eksistensi Islam sebagai minoritas. Ulama ingin menunjukkan bahwa Muslim adalah warga negara yang baik dan merupakan kesatuan dari suku bangsa yang beragam, bahkan menjadi aktor penting dalam membangun keharmonisan pada wilayah lokal dan nasional. Dalam upaya ini, ulama dan Muslim di wilayah minoritas di satu sisi melakukan berbagai negosiasi untuk menyeimbangkan antara kebutuhan mengekpresikan identitas keislamannya dan tetap menjadi warga yang baik di sisi yang lain. Sebagaimana yang terjadi di bali yang luput dari kajian akademik secara mendalam dan tertutup oleh popularitas Bali sebagai paradise for tourists. Dengan seluruh keeksotisannya ternyata Bali menyimpan beragam fakta sebagai wilayah yang multi-religious. Mayoritas penduduknya memeluk agama hindu sedangkan Islam, Kristen dan agama-agama lainnya adalah minoritas. Dominasi agama dan budaya Hindu di Bali bisa dilihat dari era kolonialisme. Sebab pemerintah Belanda lah yang berinisiasi menciptakan Bali berdasarkan imajinasi mereka sebagai pulau Hindu yang di kelilingi oleh pulau-pulau Islam di sekitarnya. Imaginasi ini muncul karena Belanda trauma menghadapi berbagai gerakan Islam di Jawa dan Sumatera yang selalu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dengan kata lain, Bali dijadikan Belanda sebagai oposisi terhadap Islam. Kebijakan pemerintah Belanda terus dibangun untuk mengontrol dan menjaga Bali sesuai tujuan dan imajinasi awal; bahkan sampai sekarang sistem pemerintahan desa adat yang sudah terbentuk tahun 1920 masih terus memberi pengaruh terhadap sistem pemerintahan di Bali. Mengenai arus kedatangan umat Islam sejak zaman kerajaan hingga Bali di era kontemporer, ada 2 macam perkampungan muslim di Bali yakni kampung kuno yang merujuk pada komunitas-komunitas muslim era lama dan kampung baru yang terbentuk pasca Bali dikenal luas sebagai tourist destination.6 perkampungan muslim di Karangasem berderet sepanjang arah masuk ke pusat Kerajaan. Kabupaten ini terkenal dengan komoditas “salak”-nya, terdapat 26 perkampungan muslim di enam dari delapan kecamatan, akan tetapi muslim tetap menjadi minoritas bukan seperti pemeluk agama Hindu yang mendominasi (mayoritas).7 Uniknya, meskipun pemeluk agama Islam, Katolik, Protestan dan agama lainnya minoritas dari agama hindu, suasana harmonis tetap terjaga di Karangasem. Hal ini menarik untuk di kaji mulai dari ranah Pendidikan, sosial, maupun ekonomi. Akan tetapi kajian ini lebih menitikberatkan fokus pada ranah potensi Lembaga Pendidikan, strategi para Tokoh sebagai mediasi Toleransi, konsep moderasi beragama dalam berbagai perspektif, serta model model toleransi.